
Keutamaan Ilmu dan Menuntut Ilmu:
Jalan Mulia Menuju Ridha Allah
Oleh: Ustadz Abu Halwa Aziz Setiawan, M.Kes.
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Dalam kehidupan seorang muslim, ilmu memiliki kedudukan yang sangat agung. Tidaklah seseorang dapat beribadah dengan benar, mengenal Rabb-nya dengan baik, maupun menjalani kehidupannya sesuai petunjuk Allah kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, para ulama menempatkan pembahasan tentang ilmu sebagai salah satu fondasi utama dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Dalam kajian Kitab Tazkiyatun Nufus, setelah membahas syarat diterimanya amal yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, pembahasan berikutnya adalah mengenai keutamaan ilmu dan pentingnya menuntut ilmu.
Ilmu yang Dipuji dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Ketika kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi ﷺ yang menjelaskan keutamaan ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama. Sebab ilmu inilah yang diwariskan oleh para nabi dan rasul.
Adapun ilmu-ilmu dunia seperti teknik, ekonomi, kedokteran, pertanian, dan berbagai disiplin ilmu lainnya tentu memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia. Namun ketika Allah dan Rasul-Nya memberikan pujian khusus terhadap ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu yang mengenalkan manusia kepada Allah, membimbingnya menuju ketaatan, serta menyelamatkannya di dunia dan akhirat.
Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Oleh sebab itu, siapa saja yang mengambil bagian dari ilmu agama, maka sesungguhnya ia telah memperoleh bagian yang sangat besar dari warisan para nabi.
Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda :
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوْا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya saja mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak (Tirmidzi 6282, Abu Daud 3641, Ibnu Majah 223, dan dishahihkan oleh Al Albany dalam Shahih al Jami” 2697)
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : sudah diketahui bahwa yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat dan bukan lainnya. Para nabi tidak mewariskan ilmu industry dan yang berhubungan dengannya. Ketika Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang sedang melakukan penyerbukan pohon kurma. Ketika beliau melihat kelelahan mereka, beliau berkata kepada mereka sesuatu yang berarti bahwa hal itu tidak perlu dilakukan, lalu mereka melakukannya dan meninggalkan penyerbukan, tetapi pohon-pohon kurma itu rusak. Maka kemudian beliau bersabda :أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِشُؤُوْنِ دُنْيَاكُمْKalian lebih mengetahui urusan dunia kalian (Muslim 263, Ahmad 3/152)
Allah Mengangkat Derajat Orang Berilmu
Salah satu keutamaan ilmu yang sangat agung adalah bahwa Allah Ta’ala akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Allah Ta’ala berfirman:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan sebab kemuliaan seseorang di sisi Allah. Kemuliaan tersebut bukan diukur dari harta, jabatan, kedudukan sosial, ataupun popularitas, melainkan dari iman dan ilmu yang dimiliki.
Semakin seseorang mengenal agamanya dengan benar dan mengamalkannya dengan ikhlas, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.
Orang Berilmu Tidak Sama dengan Orang yang Tidak Berilmu
Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Tentu jawabannya tidak sama.
Orang yang memahami ilmu agama mengetahui tujuan hidupnya. Ia mengetahui untuk apa diciptakan, ke mana ia akan kembali, dan apa yang harus dipersiapkan untuk kehidupan setelah kematian.
Ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan, orang berilmu memiliki panduan yang jelas. Ia tidak mudah terombang-ambing oleh syubhat, hawa nafsu, ataupun berbagai pemikiran yang menyimpang. Hatinya mantap karena dibangun di atas keyakinan yang bersumber dari wahyu Allah.
Sebaliknya, kebodohan sering kali menjadi sebab munculnya keraguan, kesesatan, dan berbagai penyimpangan dalam kehidupan manusia.
Menuntut Ilmu: Jalan Termudah Menuju Surga
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bagi para penuntut ilmu. Beliau bersabda:
مَن سلَكَ طريقًا يلتَمِسُ فيهِ علمًا ، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طريقًا إلى الجنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Abu Daud 3641, Tirmidzi 2682, Ibnu Majah 223, Ahmad 21715)
Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan menuntut ilmu. Setiap langkah yang diayunkan menuju majelis ilmu, setiap waktu yang dihabiskan untuk membaca dan mempelajari agama, serta setiap usaha yang dilakukan untuk memahami syariat Allah merupakan bagian dari perjalanan menuju surga.
Tidak ada kerugian bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agama. Bahkan, aktivitas tersebut termasuk amal yang paling dicintai Allah karena menjadi sebab lurusnya seluruh amal lainnya.
Hakikat Ilmu yang Bermanfaat
Dalam kajian ini dijelaskan bahwa ilmu terbagi menjadi dua.
Pertama, ilmu lisan, yaitu ilmu yang dihafal, dipelajari, dibaca, atau disampaikan kepada orang lain.
Kedua, ilmu hati, yaitu ilmu yang meresap ke dalam jiwa dan memengaruhi perilaku seseorang.
Ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang masuk ke dalam hati. Ilmu tersebut melahirkan rasa takut kepada Allah, menumbuhkan kecintaan kepada-Nya, memperkuat harapan terhadap rahmat-Nya, dan mendorong seseorang untuk semakin taat kepada-Nya.
Banyak orang yang mengetahui suatu hukum, namun tidak mengamalkannya. Sebaliknya, orang yang benar-benar memperoleh ilmu yang bermanfaat akan tampak pengaruh ilmunya dalam akhlak, ibadah, dan seluruh perilakunya.
Karena itu para ulama salaf sangat khawatir apabila ilmu yang mereka pelajari hanya berhenti pada lisan dan pikiran, tanpa memberikan dampak pada hati dan amal perbuatan.
Wafatnya Ulama dan Hilangnya Ilmu
Di antara peringatan penting yang disampaikan Rasulullah ﷺ adalah bahwa ilmu tidak akan hilang sekaligus dari muka bumi dengan cara dicabut dari dada manusia. Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda dalam hadis Abdullah bin Amru:
إنَّ اللهَ لا يقبضُ العلمَ انتزاعًا ينتزعُهُ منَ النَّاسِ ، ولَكن يقبضُ العلمَ بقبضِ العُلماءِ ، حتَّى إذا لم يترُك عالمًا اتَّخذَ النَّاسُ رؤوسًا جُهَّالًا ، فسُئلوا فأفتوا بغيرِ عِلمٍ فضلُّوا وأضلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari manusia, akan tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Tatkala Allah tidak meninggalkan seorang alim-pun, maka manusia akan menjadikan para pemimpin yang jahil, hingga ketika mereka ditanya, maka mereka berfatwa tanpa ilmu. Sehingga mereka sesat dan menyesatkan (Tirmidzi 2652 dan lafadz baginya, Bukhari 100, Muslim 2673)
Demikianlah, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama rabbani, yaitu ulama yang mengajarkan dan mengamalkan ilmunya.
Ketika para ulama telah banyak wafat dan tidak ada lagi generasi yang menggantikan mereka, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka berbicara dan berfatwa tanpa ilmu sehingga menyesatkan diri mereka sendiri dan menyesatkan orang lain.
Oleh sebab itu, keberadaan ulama merupakan nikmat yang sangat besar bagi umat Islam. Mereka adalah pelita yang menerangi jalan manusia menuju kebenaran. Selama para ulama masih ada dan dihormati, maka ilmu akan tetap hidup di tengah masyarakat.
Penutup
Keutamaan ilmu bukanlah sekadar tema kajian yang dibahas dalam kitab-kitab para ulama, melainkan kebutuhan mendasar bagi setiap muslim. Dengan ilmu, seseorang dapat beribadah dengan benar, mengenal Allah dengan lebih dekat, serta menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Karena itu, hendaknya setiap muslim senantiasa meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, membaca kitab-kitab para ulama, mempelajari Al-Qur’an dan sunnah, serta berusaha mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mencintai ilmu, mengamalkannya dengan ikhlas, serta memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat melalui ilmu yang bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi :
- Kitab Tazkiyatun Nufus oleh Ahmad Farid
- Kitab al Ilmu oleh Ibnu Utsaimin
Link kajian :
https://www.youtube.com/live/abNhaRN5k_U?si=IUDu-e5SM3gcCIj8





