Sebab Bermaksiat: Melalaikan Tujuan Hidup

Sesungguhnya sebab terkuat yang menjadikan seseorang tidak segan-segan terjerumus dalam kemaksiatan adalah ketidaktahuannya akan tujuan Allah ‘azzawajalla menciptakannya di dunia ini dan alasan mengapa ia diciptakan. Seringkali didapati bahwa tujuan hidup seseorang berputar-putar pada urusan dunia saja. Semua usaha yang dia lakukan selama hidupnya hanya untuk memenuhi tuntutan syahwat dan memuaskan khayalan serta hasratnya.

Terlebih lagi sebagian dari manusia tidak tahu apa tujuan sebenarnya ia menjalani hidup. Hidup mereka di dunia seakan-akan hanyalah mengalir begitu saja, tiada beda dengan kehidupan binatang di luar sana. Tidak tahu mengapa ia diciptakan bahkan tidak tahu untuk apa ia hidup? Padahal pencipta mereka, Allah subahanahuwata’ala, telah menetapkan tujuan dan alasan penciptaan mereka, seperti yang Allah subahanahuwata’ala firmankan dalam al-Qur’an :

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Surah Adh-Dhāriyāt: 56]

Dengan demikian, maka seorang manusia hendaknya menanamkan dalam dirinya bahwa tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah dan mengesakan-Nya. Tidak hanya sekedar beribadah, melainkan beribadah dengan ilmu yang benar, beribadah dengan memaknai semua konsekuensi menyembahkan diri kepada Allah subhanahuwata’ala. Yang mana semua hal tersebut terangkum dalam perkataan indah Imam Ibnu Taimiyah,

الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَ يَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَ الْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَ الظَّاهِرَةِ

“Ibadah adalah sebuah kata yang merangkum segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah baik berupa ucapan atau perbuatan yang tersembunyi maupun terang-terangan.”

Lalu mengapa manusia masih bermaksiat kepada Allah ‘azzawajalla? Padahal semua perkataan yang terucap, semua amalan yang diperbuat, dan semua perasaan yang terbersit, yang semuanya terlihat maupun tersembunyi, selayaknya ditujukan hanya kepada Allah ‘azzawajalla dan dijadikan sebagai bentuk peribadatan kepada-Nya. Yang demikian menuntut seseorang untuk melebur semua tujuan dan angan-angan duniawinya yang pendek dan terbatas ke dalam satu tujuan terbesar dalam hidupnya (yakni beribadah kepada Allah subhanahuwata’ala semata.) Menjadikan segala gerak gerik kita sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah subhanahuwata’ala serta berusaha membangun hubungan yang baik dengan Sang Pencipta, akan memberikan kelapangan hati, kemuliaan, dan memalingkan kita dari gemerlapnya dunia menuju kedudukan yang tinggi bersama para malaikat.

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *