PERTANYAAN : terkadang sebuah hadis lemah sanadnya namun shahih maknanya, apakah (hadis) dapat diamalkan?
JAWAB (Syaikh Bin Baz) : asalnya diamalkan. Asalnya adalah (mengamalkan) yang ditunjukkan oleh al Quran dan hadis-hadis shahih.
PENANYA : Syaikh Nashiruddin al Albany, semoga Allah ta’aala menjaganya, berkata : sesungguhnya hadis dhaif dibangun atas dhonn (persangkaan). Dan oleh karena itu, beliau berpendapat tidak mengamalkannya, karena hadis tersebut dibangun atas persangkaan. Dan dhonn (persangkaan) adalah perkataan yang paling dusta?
JAWAB (Syaikh Bin Baz) : tidak, tidak. Hadis-hadis dhaif digunakan dalam permasalahan targhiib (motivasi) dan tarhiib (ancaman), dan digunakan pada permasalahan yang sudah tetap asalnya (berdasarkan nash yang shahih atau hasan, pent).
PENANYA : namun beliau membantah hal ini dan berkata bahwa hadis-hadis yang shahih banyak memenuhi hadis-hadis targhiib dan tarhiib, oleh karena itu mengapa (hadis dhaif tersebut) tidak dibutuhkan?
JAWAB (Syaikh Bin Baz) : tidak mengapa menyebutkannya dalam pembahasan targhiib dan tarhiib, (dikatakan) diriwayatkan dari Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama (dengan kata kerja pasif, pent), sebagaimana para ulama mengatakan, meriwayatkan dengan menyebutkan tanpa memastikan.
✒ Diterjemahkan Oleh Ustadz Abu Halwa Aziz Setiawan, S.KM., M.Kes. Hafidzahullahu Ta’ala




